Solo — Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Kabupaten Lampung Barat melakukan kunjungan Safari Jurnalistik ke Monumen Pers Nasional serta kantor PWI Surakarta yang berlokasi di Jalan Gajah Mada Nomor 59, Kelurahan Timuran, Kecamatan Banjarsari, Kota Surakarta, Sabtu (29/11/2025). Rombongan yang berjumlah 14 orang tersebut dipimpin oleh Ketua PWI Lampung Barat, Rifai Arif.
Kedatangan rombongan disambut langsung oleh Ketua PWI Surakarta, Anas Syahirul dan Asep Abdullah yang menjabat untuk periode 2022–2027, bersama sejumlah pengurus setempat.
Dalam sambutannya, Anas menyampaikan bahwa Surakarta memiliki makna historis bagi dunia jurnalistik Indonesia. Di kota inilah, kata dia, PWI lahir dan berkembang sebagai organisasi profesi wartawan di bawah semangat kemerdekaan.
“Ditempat inilah lahir Persatuan Wartawan Indonesia atau PWI. Kota Solo adalah kota yang unik, punya karakter sosial dan budaya yang kuat. Karena itu wartawan yang belajar atau berproses di sini harus mampu mengelola potensi dan mengembangkan SDM agar semakin profesional,” ujar Anas.
Ia melanjutkan, kunjungan tersebut diharapkan bukan hanya menjadi ajang silaturahmi, tetapi juga menjadi ruang pertukaran gagasan dan pengalaman antara wartawan Surakarta dan Lampung Barat.
“Semoga ini bukan hanya silaturahmi, tetapi akan terjalin pertukaran ilmu, program, serta kerja kolaboratif ke depan,” tambahnya.
Anas juga menjelaskan sejarah singkat bangunan Monumen Pers yang kini menjadi salah satu titik penting perkembangan sejarah pers Tanah Air.
“Awalnya gedung ini merupakan milik Mangkunegara. Kemudian digunakan untuk deklarasi berdirinya PWI, setelah itu dikembangkan menjadi monumen pers. Kini, bangunan ini telah diserahkan kepada pemerintah untuk dikelola sebagai pusat literasi dan sejarah pers nasional,” tutur Anas.
Disisi lain, selain fungsi sejarah, Monumen Pers kini aktif menjadi lokasi penyelenggaraan pelatihan jurnalistik, seminar media, hingga pameran publikasi.
Menariknya, dalam kesempatan tersebut Anas juga mengungkapkan bahwa PWI Surakarta saat ini tengah mempersiapkan diri sebagai tuan rumah pelantikan pengurus pusat PWI periode 2025–2030.
“Kami diberi amanah menjadi tuan rumah pelantikan pengurus pusat. Yang lebih hebat lagi, kami menjalankan organisasi ini tanpa dana hibah. Jadi semua kegiatan didorong oleh kemandirian dan komitmen anggota,” tegasnya.
Ia menambahkan bahwa seorang wartawan harus bekerja dengan semangat, integritas, serta kemampuan membangun kepercayaan publik.
“PWI pernah mengalami mati suri, tetapi sebagai tempat lahirnya organisasi ini, api perjuangan tidak boleh padam. Kami terus membuat kegiatan, mulai dari lomba jurnalistik hingga pelatihan peningkatan kompetensi,” tutupnya.
Sementara itu, Ketua PWI Lampung Barat, Rifai Arif, menyampaikan apresiasi atas penyambutan hangat serta pembelajaran sejarah pers yang diperoleh dalam kunjungan tersebut.
“Terimakasih atas sambutan kawan-kawan pwi Ini bukan hanya kunjungan, tetapi momentum pembelajaran organisasi dan sejarah pers nasional. Kami berharap hubungan ini terus terbangun, khususnya dalam bidang peningkatan kualitas jurnalistik, program pendidikan, dan pertukaran gagasan,” ujarnya singkat.
Perlu diketahui, PWI pertama kali didirikan di Surakarta pada 9 Februari 1946, sebagai organisasi profesi yang menaungi wartawan nasional setelah lahirnya pers kemerdekaan. Dalam struktur kelembagaannya, PWI memiliki unsur Dewan Penasihat, Dewan Pakar, serta bidang-bidang kerja yang fokus pada kode etik, pendidikan jurnalistik, advokasi media, hingga pembinaan organisasi.
Kunjungan ini menjadi momentum penguatan kerja sama antarwilayah sekaligus refleksi sejarah pers Indonesia, terutama bagi generasi wartawan daerah yang terus berkomitmen meningkatkan profesionalisme, etika, dan kualitas pemberitaan bagi publik. (RNL)









